Tampilkan postingan dengan label Pementasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pementasan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Oktober 2008

Holocaust


"ProgId" content="Word.Document">

Karakter! Karakter! Karakter!

Yang menuntun alur pikiran dan rasa yang mendorong gerak dan tindakan. Macam apakah karakter kita saat ini?

Jika karakter tumbuh akan menjadi apakah suatu hari?

Faktor-faktor yang menyusun karakter yang menjadikan perubahan-perubahan besar peradaban, adakah yang mendisain atau kehendak Tuhan?

Lihat saja kesekeliling kita, disana pengaruh besar sedang menyusun karakter kita.

Saat ini sebuah perubahan bisa kita saksikan.

Kita masih sanggup tertawa mendengar berita-berita kematian. Kita masih bisa meneguk segelas bir atau sepiring ayam Kentucky yang nikmat sambil nonton orang kelaparan di TV. Atau sambil cekikikan bergumul diatas tempat tidur. Apa mungkin anda menghentikan kunyahan karena tersentuh perasaan...? Jawab saja sendiri..

Dalam Holocaust Rising, kegelisahan muncul dari banyak fenomena ” kehalusan perasaan-perasaan manusia saat ini ” ketika godaan-godaan hidup sangat beragam dan semakin menyingkirkan kita dari esensi manusia berperasaan halus. Bahkan sebagian dari manusia memelihara keliaran binatang dalam dirinya.

Berita-berita pembunuhan, kematian, pemerkosaan, penyiksaan yang menghambur ketelinga kita tiap hari, jangan-jangan justru membuat kita jadi kebal.

Atau banyak faktor lain juga yang semakin meningkatkan ketegaan kita pada orang lain.

Apakah yang berpakaian paling rapi dan berbau wangi adalah yang paling tau bersikap sebagai manusia yang sesungguhnya, merekakah yang mendisain peradaban dunia, lalu akan menuju kemana?

Bagaimana jika kita menyaksikan langsung mayat-mayat yang mati sengsara didepan mata kita? Apakah kita masih bisa terhenyak, atau terdorong surut dan takjub pada kemungkinan apa yang sanggup dilakukan manusia pada manusia yang lain?

Bagaimana dengan anak-anak dan dunia yang disaksikannya, akankah mereka punya rasa tega yang lebih besar karena disain ”peradaban” yang mempengaruhinya.

Betulkah hati kita sudah sulit tersentuh? Ya pertunjukan ini juga sedang mencari-cari dan menelusur ruang-ruang gelap perjalanan pikiran ,tubuh yang membuat kekejaman tumbuh.

Holocaust Rising, sejujurnya merupakan pentas yang agak kesusu, proses yang hanya makan waktu 2 bulan dengan teks sambil berjalan rasanya terlalu sprint. Apalagi tema yang diusung cukup menstimulasi kerja pikiran dan rasa. Percobaan untuk mengujikan paduan style akting dan kemungkinan melintasi batas konvensi dan ke-rigid-an aturan. Huh! Di lain kesempatan ingin rasanya menyempurnakan keinginan.

Jumat, 25 April 2008

Zero Matrix


Zero Matrix
Zero matrix adalah zero moment.
Ketika hidup tiba-tiba menghentikan putarannya pada lingkaran kosong yang menghentak. Ketika pertanyaan-pertanyaan muncul dan memenuhi kepala dan dada. Ketika tiba-tiba kita menyadari desahan nafas yang kita miliki. Ketika perjalanan membutuhkan keputusan yang tidak terangkum dalam kalimat-kalimat pasti. Masih haruskah perjalanan dilanjutkan? Sudah usaikah hidup memberikan kesempatan? Kemana lagi tujuan harus dilanjutkan? Apakah hidup masih berarti untuk dimiliki? Apakah kita hidup atau Cuma ada?
Zero matrix.
Zero matrix adalah lingkaran-lingkaran kosong yang senantiasa datang menghampiri kita, memberi kesempatan untuk mengisinya dengan angka-angka yang berarti atau kembali pada lingkaran, bola-bola dan balon-balon yang pecah pada saatnya sendiri…dan terus dalam lingkaran sampai kita mendengar lagi desahan nafas kita sendiri

Rabu, 18 April 2007

Children First


karya:SAC
Idea: membuat sebuah repertor yang dipakai sbagai pembukaan atau pengisi waktu atau introduksi.

About; ekspresi orang orang yang sedang kebelet pipis disebuah toilet umum. Ekspresi yang tampak tidak boleh terlalu mencolok penyebabnya. Tidak boleh ada tanda tentang ruangan WC. Beberapa orang antri, beberapa orang datang untuk antri. Berusaha membuat akting yang ekspresif tentang kebelet yang amat sangat, sehingga ledakan-ledakannya nampak sebagai ekpresi emosi yang bercampuran dan kuat.
Ending dibuat sebagai jawaban bahwa mereka sedang antri toilet. Dua orang keluar dari pintu toilet, dan yang berebut untuk masuk, namun aksi mereka terhenti karena seorang ibu membawa 2 orang anak laki dan perempuan yang juga sudah sangat kebelet sehingga orang-orang dewasa harus mengalah. Ending ditutup dengan freez ekspresi yang sesungguhnya orang2 yang kebelet.

Catastrophe


Kesadaran seorang sutradara untuk menyajikan pilihan pertunjukan harus selalu diujikan saat berhadapan dengan penontonnya. Memilih bahan komunikasi dan memilih cara berkomunikasi. Tapi itu juga bukan sebuah jaminan keberhasilan komunikasi. Penonton sangat heterogen dan kepentingannya sangat majemuk. Ada yang menonton karena ‘harus menonton, menonton karena diajak kawan, menonton sebagai tenggang rasa, menonton karena tak ada kegiatan lain, menonton karena ingin belajar, ingin menemani kekasihnya, ingin mencari kelemahan tontonan atau ingin mencari kepuasan estetik dan masih banyak alasan yang tak selalu ada dalam pertimbangan penyutradaraan. Begitu juga penonton dari latar belakang sejarah perjalanan hidup yang beragam sehingga bisa jadi sebuah pertunjukan tak bisa selalu menjalin koneksi yang berimbang dengan semua penonton.
Kesadaran diatas yang juga saya pakai untuk bersikap. Jadi silahkan melihat pertunjukan dengan cara anda masing-masing. Tak perlu bersusah payah menemukan yang sulit ditemukan. Jika mata tak bisa menikmati cobalah dengan telinga, jika pikiran tak bisa menikmati cobalah dengan hati. Atau pakailah semuanya, jika semua sudah dipakai tetap tak bisa menikmati, mungkin kita belum jodoh. Anda boleh mempersunting pertunjukan yang lain atau saya yang harus mempercantik diri. Sebagai pengantar tetap saya harus sampaikan.
Menonton Zero Matrix, ini bukan sebuah perjalanan yang harus dilihat dengan menengok sekian panjang perjalanan anda karena ini bukan cerita berplot yang bisa diperdebatkan dramatiknya. Tengok saja satu momen dimana anda tiba-tiba berada dilorong panjang dan tak tahu akan berakhir dimana, atau dalam labirin dan tak ada jalan keluar. Atau dengan alasan yang tak jelas hidup anda tiba-tiba terasa kosong. “Zero Matrix” adalah hasil tangkapannya . Seperti momen-momen fotografis yang menghentikan perjalanan dengan tiba-tiba. Mungkin juga momen abstrak yang di-klik dari pusaran emosi. Tak ingin membuat solusi, tak hendak beratraksi tentang kepintaran berpikir. Cukup untuk berbagi bahwa kita akan atau pernah atau sedang berhadapan dengan situasi kosong yang kadang menghentakkan tubuh kita merapat dengan dinding untuk dapat bertahan berdiri. Kemudian belajar pada kekejaman ‘waktu’ yang tak memperdulikannya. Sesedih apapun kita waktu tetap berputar…, pesawat harus menepati jadwalnya, bayi-bayi harus lahir, padi-padi tetap tumbuh, hujan tetap jatuh, kelelahan harus disandarkan.. dan tak ada yang harus menengok kekosongan kita.
Menonton Catashtrophe, ya silahkan ditonton saja. Kepiawaian Beckett sudah tak teragukan untuk menangkap fenomena absurditas. Tapi pertunjukannya selalu boleh diragukan karena tak selalu bermakna tunggal. Interpretasi juga boleh meleset, karena memainkan naskah Beckett seperti menembak target bergerak. Sesekali kena sayap, sesekali melukai kaki, sesekali memecahkan kepala, kadang kadang meremukkan ulu hati. Apakah kita selalu bisa membaca pikiran?
Ya saya sedang berkompromi dan membuat deal dengan Beckett. Saya tetap mengajukan penawaran padanya sebagaimana para aktor juga mengajukan penawaran ciptaannya.
Dalam Catashtrophe, Beckett secara sangat lihai meminjam adegan proses penyutradaraan untuk menggambarkan gesture kekuasaan. Mungkin juga sebuah kabar duka dari dunia yang sedang gemar menguliti tubuh-tubuh sengsara dan mengoleksi mayat.